Busamnews.id,—BALIKPAPAN – Tidak semua anak yang lahir dari keluarga sederhana berani bermimpi tinggi. Namun kisah Dr. Indrayani membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan akhir dari masa depan.
Lahir dan tumbuh dari keluarga penjual nasi kuning, ia pernah merasakan pahitnya hidup dalam keterbatasan. Namun dengan tekad kuat dan dukungan bantuan pendidikan, dirinya berhasil menembus batas yang dulu tampak mustahil: meraih gelar Doktor di usia 30 tahun.
Kini, sebagai Wakil Rektor II di Universitas Balikpapan, Dr. Indrayani menjadi salah satu suara yang paling lantang mendukung Program Gratispol Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur karena memberi dampak positif bagi dunia pendidikan.
“Dulu saya hanya anak penjual nasi kuning. Saya tahu rasanya bingung memikirkan biaya sekolah. Karena itu saya sangat memahami betapa besar arti bantuan pendidikan bagi anak-anak yang sedang berjuang mengejar mimpi,” tuturnya penuh haru.
Gratispol Dinilai Mengubah Wajah Pendidikan Kalimantan Timur
Menurutnya, Gratispol bukan sekadar program bantuan kuliah biasa, melainkan langkah besar yang membuka pintu pendidikan tinggi lebih luas dan lebih adil bagi seluruh lapisan masyarakat.
Jika sebelumnya program beasiswa hanya mampu menjangkau ribuan mahasiswa dengan sistem kompetitif yang ketat, kini melalui Gratispol jumlah penerima meningkat drastis hingga puluhan ribu mahasiswa yang tersebar di berbagai perguruan tinggi di Kalimantan Timur.
“Ini bukan angka kecil. Ini sejarah baru pendidikan di Kalimantan Timur. Artinya pemerintah benar-benar hadir untuk memastikan anak-anak daerah punya kesempatan yang sama untuk sukses mengenyam pendidikan tinggi,” ujarnya.
Ia menilai keunggulan terbesar Gratispol terletak pada pendekatannya yang lebih inklusif. Program ini tidak hanya menyasar mereka yang tampak miskin secara kasat mata, tetapi juga membantu banyak keluarga yang sebenarnya sedang terpuruk namun sering luput dari perhatian.
Tidak Semua Kesulitan Bisa Terlihat dari Luar
Sebagai akademisi yang pernah terlibat dalam proses verifikasi bantuan pendidikan, Dr. Indrayani memahami bahwa realita ekonomi masyarakat tidak selalu dapat dinilai dari tampilan luar.
“Banyak anak yang rumahnya terlihat bagus karena warisan masa lalu orang tuanya. Ada yang dulu berkecukupan, tetapi sekarang kesulitan. Namun sering kali mereka tidak lolos bantuan karena dianggap masih mampu. Padahal kenyataannya mereka sedang berjuang keras,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi seperti inilah yang membuat banyak generasi muda kehilangan kesempatan melanjutkan pendidikan hanya karena sistem bantuan terlalu sempit dalam melihat kemiskinan.
“Gratispol hadir menjawab persoalan itu. Program ini memberi ruang lebih luas agar anak-anak tetap bisa kuliah dan tidak kehilangan masa depan hanya karena keadaan ekonomi keluarganya berubah,” katanya.
Pendidikan Bukan Kemewahan, Tapi Hak Semua Anak Bangsa
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Indrayani juga menyampaikan pesan yang menggetarkan kepada generasi muda Kalimantan Timur agar tidak malu berasal dari keluarga sederhana.
“Tidak apa-apa lahir dari keluarga susah. Jangan malu mengakui keadaan. Yang penting jangan pernah miskin mimpi dan jangan berhenti berjuang. Pendidikan bukan hak segelintir orang kaya. Pendidikan adalah hak semua anak bangsa,” tegasnya.
Ia berharap Program Gratispol dapat terus berjalan secara berkelanjutan hingga tahun-tahun mendatang, sehingga mahasiswa yang sudah memulai pendidikan tidak terhenti di tengah jalan karena persoalan biaya.
“Jangan sampai ada anak yang memupus cita-citanya hanya karena uang kuliah. Hari ini Kalimantan Timur sedang membuka jalan bagi lahirnya dokter, guru, dosen, pemimpin, dan masa depan baru dari rumah-rumah sederhana,” pungkasnya.







Leave a Reply