BERAU, BUSAMNEWS.ID – Ancaman abrasi pantai di Pulau Maratua kembali menjadi perhatian serius masyarakat. Dua kampung yang menjadi destinasi wisata unggulan, yakni Kampung Payung-Payung dan Kampung Teluk Harapan, Kecamatan Pulau Maratua, kini menghadapi pengikisan garis pantai yang terus terjadi dari tahun ke tahun tanpa penanganan yang dianggap memadai.
Berdasarkan pantauan di lapangan, abrasi di Kampung Payung-Payung telah mencapai badan jalan poros utama kampung. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran warga karena akses transportasi masyarakat maupun wisatawan berpotensi terputus jika gelombang besar terus menghantam kawasan pesisir.
Sementara itu, di Kampung Teluk Harapan yang juga merupakan ibu kota Kecamatan Pulau Maratua, abrasi disebut telah mengikis sekitar 7 hingga 9 meter daratan pantai hingga tahun 2026.
Dampaknya tidak hanya mengancam kawasan pemukiman dan pesisir, tetapi juga mempersempit ruang usaha masyarakat. Sejumlah pelaku UMKM yang selama ini menggantungkan aktivitas ekonomi di kawasan pantai mulai merasakan dampak berkurangnya area usaha akibat abrasi.
Saat cuaca ekstrem dan gelombang pasang terjadi, air laut bahkan disebut telah mendekati area usaha warga. Masyarakat menilai kondisi tersebut tidak lagi bisa diatasi dengan langkah-langkah sementara.
“Solusinya sebenarnya sudah jelas, tanggul pemecah ombak harus dibangun secara serius. Kalau dibiarkan terus, setiap tahun daratan akan terus hilang,” ujar salah seorang warga Maratua.
Selain hilangnya daratan, warga juga mengkhawatirkan dampak abrasi terhadap sumber mata air bersih yang selama ini menjadi penopang kebutuhan masyarakat di Pulau Maratua.
Sumber mata air utama bagi empat kampung di Maratua diketahui berada di Kampung Teluk Harapan. Warga khawatir jika abrasi terus mendekati kawasan tersebut, intrusi air laut atau masuknya air asin ke lapisan air tanah akan terjadi dan mengganggu kualitas air bersih.
Menurut warga, kondisi itu sangat berisiko bagi pulau kecil seperti Maratua yang sangat bergantung pada cadangan air tawar alami.
“Kalau abrasi tidak segera ditangani, bukan cuma pantai yang hilang, tetapi sumber air tawar masyarakat juga bisa rusak karena tercampur air laut,” kata warga lainnya.
Di tengah ancaman abrasi yang semakin nyata, masyarakat juga menyoroti keberadaan proyek embung raksasa bernilai miliaran rupiah yang hingga kini dinilai belum memberikan manfaat maksimal.
Proyek tersebut disebut belum berfungsi optimal dan belum ada kejelasan terkait kelanjutan pengerjaan maupun pemanfaatannya bagi masyarakat. Selain itu, proyek embung yang dibangun melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) di Kampung Teluk Alulu juga menjadi sorotan.
Sejumlah warga menilai pengerjaan proyek tersebut terkesan asal-asalan dan belum mampu menjawab kebutuhan air bersih masyarakat secara maksimal.
Ironisnya, meskipun Maratua masih berstatus wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal), daerah ini justru menjadi salah satu penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) sektor pariwisata bagi Kabupaten Berau yang diperkirakan mencapai sekitar Rp3 miliar setiap tahun.
Namun demikian, masyarakat menilai berbagai persoalan mendasar masih belum mendapat perhatian serius. Selain abrasi dan ketersediaan air bersih, gangguan jaringan internet juga menjadi keluhan yang hampir setiap hari dirasakan warga maupun pelaku usaha wisata.
“Internet hampir setiap hari bermasalah. Padahal sekarang promosi wisata, reservasi tamu, usaha UMKM sampai komunikasi darurat semuanya bergantung pada jaringan,” ungkap seorang warga.
Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Berau, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, hingga pemerintah pusat tidak hanya fokus pada promosi wisata dan kegiatan seremonial, tetapi juga serius memperkuat perlindungan wilayah pesisir, menjaga ketahanan sumber air bersih, serta meningkatkan kualitas infrastruktur dasar dan layanan publik di Pulau Maratua.
Warga menilai tanpa langkah cepat dan konkret, abrasi yang terus berlangsung bukan hanya mengancam sektor pariwisata, tetapi juga masa depan kehidupan masyarakat yang tinggal di salah satu pulau terluar Indonesia tersebut.
(Bram/Busamnews.id)














Leave a Reply