BUSAMNEWS.ID

Media Pemberitaan Kalimantan Timur

Pertambangan Topang 34,18% Ekonomi Kaltim, YMH Ingatkan Ancaman dan Desak Alternatif

Busamnews.id Samarinda — Struktur ekonomi Provinsi Kalimantan Timur masih bertumpu kuat pada sektor pertambangan. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim tahun 2025, kontribusi sektor ini mencapai 34,18 persen terhadap perekonomian daerah.

Meski tren kontribusinya disebut menurun dari tahun ke tahun, ketergantungan terhadap eksploitasi sumber daya alam dinilai masih berada pada level yang mengkhawatirkan. Ketua Dewan Pembina Yayasan Mitra Hijau (YMH), Dicky Edwin Hendarto, mengungkapkan bahwa di tingkat kabupaten, dominasi sektor tambang bahkan bisa menembus hingga 75 persen.

“Ini menunjukkan struktur ekonomi kita belum sehat karena terlalu bergantung pada satu sektor,” ujarnya dalam Focus Group Discussion (FGD) bersama media di Samarinda, Kamis (23/4).

FGD tersebut menjadi bagian dari upaya YMH dalam mendorong agenda transisi energi berkeadilan di Kalimantan Timur. Dalam tiga tahun terakhir, YMH aktif berkolaborasi dengan jaringan internasional seperti Climate Action Network untuk memperkuat advokasi dan dialog lintas sektor.

Melalui berbagai program, YMH mendorong pembentukan forum konsultasi daerah guna membahas transformasi ekonomi berbasis energi bersih. Sejumlah sektor alternatif dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan, di antaranya energi terbarukan seperti tenaga surya dan biogas, penguatan UMKM hijau berbasis daur ulang, hingga pengembangan ekowisata dan eduwisata berbasis potensi lokal.

Selain itu, peluang juga terbuka pada penciptaan lapangan kerja hijau, pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas dan perempuan, serta digitalisasi UMKM untuk memperluas akses pasar.

Namun, tantangan yang dihadapi masih sangat besar. Data menunjukkan terdapat sekitar 1.700 hingga lebih dari 2.700 lubang tambang di Kalimantan Timur yang belum direklamasi. Kondisi ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga telah memakan korban jiwa.

“Setidaknya 51 orang meninggal dunia sejak 2011, sebagian besar anak-anak, akibat lubang tambang yang dibiarkan terbuka,” ungkap Dicky.

Dampak lingkungan juga terlihat dari tingginya aktivitas distribusi batu bara di Sungai Mahakam. Setiap hari, lebih dari 200 tongkang batu bara melintasi sungai tersebut, yang berdampak pada penurunan kualitas air dan terganggunya ekosistem.

Salah satu yang terdampak adalah Pesut Mahakam yang kini diperkirakan hanya tersisa sekitar 60 hingga 66 individu, mendekati ambang kepunahan.

Koordinator Lapangan Kaltim Project IKI-JET YMH, Maria Ulfah, menegaskan bahwa kondisi ini merupakan sinyal kuat bahwa ketergantungan terhadap batu bara menyimpan risiko jangka panjang.

“Ketika pasar batu bara melemah, dampaknya bisa langsung terasa ke ekonomi daerah, termasuk meningkatnya potensi pengangguran,” jelasnya.

Ia juga menyoroti belum adanya pemetaan komprehensif terkait transisi tenaga kerja dari sektor tambang ke sektor lain, termasuk dalam pengembangan pekerjaan hijau.

Kalimantan Timur kini berada di persimpangan: di satu sisi sektor tambang masih menjadi tulang punggung ekonomi, namun di sisi lain ketergantungan yang tinggi berpotensi menjadi ancaman di tengah tren global yang mulai meninggalkan energi fosil.

“Transformasi ekonomi tidak bisa lagi ditunda. Ini harus segera dimulai,” pungkasnya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *